Monday, September 19, 2016

SCIENCE AND GOD (Sains dan Tuhan)

Posted by Edo Bramantyo on Monday, September 19, 2016


Jika dilihat dari judulnya saja sudah membuat saya sangat antusias untuk menulis artikel ini karena ini merupakan pembahasan yang sangat menarik untuk dijelaskan. Menurut saya, Sains dan Tuhan adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Kenapa? Karena Tuhan menciptakan manusia, manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran, yang mana mereka dapat memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi sampai mereka dapat mengembangkan sebuah ilmu pengetahuan. Rasa keingintahuan yang tinggi ini lah membuat mereka ingin mencari pembenaran dan bukti tentang keberadaan Tuhan. Keberadaan yang menciptakan mereka (Manusia) serta seisi alam semesta.

Pertama-tama akan kita bahas mengenai survey yang pernah dilakukan oleh Nasional Opinion Research Center di Universitas Chicago pada tahun 2012. Mereka melakukan survey ini sudah sejak tahun 1991. Hasil yang didapat adalah kepercayaan terhadap Tuhan mulai berkurang di 14 negara dari 18 negara, dengan hasil survey 2,4% sementara yang menganut ateis ada di 3 negara dengan rata-rata 1,7%.
Padahal selama berabad-abad, sains masih membutuhkan Tuhan. Sejak abad Yunani, Tuhan masih dipercaya memiliki peran penting dalam penciptaan alam semesta, namun sekarang itu semua telah dijelaskan oleh penjelasan natural yang artinya alam semesta tercipta dengan sendirinya tanpa campur tangan Tuhan. Di dalam kitab suci pun telah dijelaskan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta. Namun sekarang sains sudah bisa menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta terjadi karena proses astromical dan geological yang mana membutuhkan proses miliaran tahun.
Banyak philosoper dan ilmuan yang menolak terkerlibatan agama dan Tuhan. Salah satunya adalah Stephen Hawking. Stephen Hawking adalah seorang ilmuwan yang sangat terkenal karena teori Big Bangnya. Stephen Hawking semakin menjadi sorotan karena pernyataannya mengenai Tuhan. Dia mengatakan bahwa sejatinya Tuhan tidak ada dan alam semesta bukanlah ciptaan Tuhan melainkan karena hukum gravitasi, alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya Sehingga tidak perlu Tuhan untuk memicu pembuatannya dan mengatur segala isi di dalamnya.
Hukum fisika, teori evolusi, pengembangan alam semesta, semuanya memiliki keyakinan bahwa dibalik prinsip-prinsip atau teori yang ada, belum ada kekuatan yang dapat dijelaskan bagaimana mengatur pergerakan alam semesta ini. Dengan adanya sikap spiritual yang mungkin melibatkan nilai-nilai tertentu. Seorang ilmuwan seperti Richard Dawkins contohnya, mengatakan bahwa dia merasa sulit untuk hidup tanpa meyakinkan ‘sesuatu’.
Jika sains sudah membuang Tuhan sebagai aktor yang mengatur dunia, apakah Tuhan akan dilupakan? Tuhan personal ala agama-agama kuno mungkin tersingkir, tapi Tuhan dan agama akan kembali dengan format yang mungkin tidak diduga oleh banyak orang. Seperti munculnya konsep ‘The God Of The gaps’ yang dikemukakan oleh Henry Drummond yang mana konsep ini menjelaskan bahwa jika seseorang tidak bisa menjelaskan sesuatu secara ilmiah maka Tuhan yang dijadikan celah untuk menjawabnya. Artinya Tuhan berfungsi untuk mengisi celah ketidaktahuan seseorang dalam menjawab sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. 



4000 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab apa itu petir. maka celah itu diisi dengan Tuhan.setelah sains bisa mengisi celah petir, maka Tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang. 300 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab, mengapa benda jatuh. maka jawabannya Tuhan setelah sains bisa menjelaskan fenomena Gravitasi, maka Tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang. 200 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab, darimana asal Manusia. maka diisi dengan Tuhan. setelah sains bisa menjelaskan fenomena Evolusi, maka Tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang. 100 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab, darimana asal alam semesta. maka diisi dengan genesis. setelah sains bisa menjelaskan fenomena bigbang, maka Tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang.
Tuhan yang hanya berfungsi menambal lubang di ilmu pengetahuan. Seiring dengan meningkatnya sains dalam menjawab lubang tersebut, maka Tuhan yang tadinya menambal lubang tersebut dibuang, dan diingat sebagai mitos.
Akibat perkembangan ini secara praktis gambaran Tuhan agama-agama kuno yang secara aktif menciptakan dunia, dengan tangannya sendiri menciptakan manusia, melibatkan diri melalui mukjizat dalam berbagai peristiwa di dunia dan menjanjikan surga neraka; menjadi tidak relevan dan tergusur oleh sains. Beberapa saintis melangkah lebih jauh dengan menyatakan Tuhan dan agama hanyalah delusi masyarakat kuno. Mempertahankannya hanyalah penyakit bagi peradaban manusia. ilmuwan seperti Richard Dwakins, Sam Harris dan ilmuwan-ilmuwan lainnya dengan gigih mengkampanyekan penghapusan agama.

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment