Tuesday, September 27, 2016

POSISI TIDUR TERHADAP GANGGUAN SENDI TEMPOROMANDIBULA DAN NYERI MIOFASIAL

Posted by Unknown on Tuesday, September 27, 2016


Tidur merupakan proses fisiologis yang komplek. Ia melibatkan serangkaian keadaan yang dipertahankan fungsi luhur dari aktivitas sistem saraf pusat yang berkaitan dengan perubahan-perubahan pada sistem saraf perifer, sistem endokrin, sistem kardiovaskuler, sistem respirasi, dan sistem muskuloskeletal. Ada beberapa macam posisi tidur yaitu: tidur terlentang, tidur miring, dan tidur tengkurap.


Posisi tidur terlentang yaitu posisi tidur sangat ideal untuk mencegah nyeri leher dan punggung, tidur miring mempunyai kelemahan mempercepat timbulnya kerutan di wajah dan gangguan pada rahang karena tekanan pada satu sisi. Menurut Dr.Roshini Rajapaksa pada posisi tidur miring semua tekanan akan berada pada satu sisi yang menghadap bantal. Tidur tengkurap memberi tekanan pada sendi dan otot-otot tubuh sehingga dapat mengiritasi saraf dan menyebabkan nyeri. Selain itu dalam posisi ini kepala akan berada pada satu sisi dalam waktu lama sehingga leher akan terasa pegal.

Articulatio temporomandibulare adalah sendi temporomandibula yang sangat kompleks di dalam tubuh manusia. Sendi ini memberikan pergerakan engsel pada satu bidang sehingga dapat dianggap sebagai sendi ginglymoid. Pada waktu yang sama juga melakukan pergerakan meluncur sehingga disebut sebagai sendi ginglymoarthroidal. Selama proses pengunyahan sendi temporomandibula menopang tekanan yang cukup besar. Oleh karena itu, sendi temporomandibula mempunyai diskus artikularis untuk menjaga agar kranium dan mandibula tidak bergesekanSendi temporomandibular dibentuk oleh os  mandibular condyle yang berada pada mandibular fossa dari os temporale. Diskus artikularis memisahkan ke dua bagian ini sehingga artikulasi dapat berlangsung. Articular disk merupakan tulang lunak, secara fungsional diskus ini dapat melakukan gerakan kompleks pada sendi dan berfungsi sebagai permukaan artikular sendi tersebut. Sendi temporomandibula tidak luput dari kelainan seperti yang terjadi pada sendi sinovial lain. The National Institute of Dental Research mengklasifikasikan kelainan sendi temporomandibula dalam 3 kategori, yaitu kelainan otot pengunyahan, kelainan pada kompleks kondilus-diskus, dan penyakit degeneratif sendi.

Kelainan sendi temporomandibula yang paling sering terjadi adalah disebabkan oleh kelainan otot, yang disebut sebagai nyeri miofasial, dan disfungsi sendi temporomandibula. Schwartz merupakan orang pertama yang menemukan bahwa terdapat sejumlah pasien yang mempunyai masalah dengan sendi temporomandibula ternyata juga menunjukkan gejala spasme pada otot-otot pengunyahan. Spasme otot ini menyebabkan rasa sakit dan keterbatasan dalam pergerakan mandibula. Schwartz (1960) menyebutnya dengan sindroma disfungsi nyeri sendi temporomandibula (temporomandibular joint pain-dysfunction syndrome) atau yang lazim disebut dengan istilah sindroma disfungsi nyeri miofasial (myofacial pain dysfunction syndrome MPD).


Disfungsi sendi temporomandibular disebabkan oleh banyak faktor, antara lain disebabkan oleh beban pengunyahan pada gigi yang terlalu besar, pengecilan otot rahang, dan ketegangan dari otot-otot pendukung sendi temporomandibula. Selain itu dapat disebabkan oleh, sikap tubuh yang salah (salah satunya posisi tidur yang salah), kebiasaan oral yang buruk, kerusakan fascia akibat trauma atau penyakit. 

Smith di dalam The Atlas of Temporomandibular Orthopedics mengemukakan bahwa ada hubungan antara kelainan sendi rahang dengan sikap tubuh yang salah, yang dapat mengakibatkan  kelainan fungsi pada fascia (pembungkus) otot, menyebabkan kelainan sendi rahang karena seluruh fascia di dalam tubuh saling memiliki keterkaitan hubungan, sehingga adanya kelainan pada salah satu organ tubuh akan berakibat kelainan pada organ lainnya. Sekitar 80-90% kelainan sendi rahang berhubungan dengan otot-otot tubuh, khususnya otot di daerah kepala, leher dan pundak. Hiperaktifitas otot dapat mengakibatkan kelainan sendi rahang yang menyebabkan rasa sakit di sekitar daerah rahang.


Posisi tidur yang salah yang dimaksud adalah kebiasaan posisi tengkurap dengan leher yang melengkung 90 derajat ke salah satu sisi (posisi lateral) memberikan dampak yang sama seperti orang yang membengkokan kepalanya di sepanjang hari , pada orang yang memiliki kebiasaan tidur dengan menyelipkan tangannya di bawah bantal sehingga posisi kepala menjadi lebih tinggi dapat memberikan gejala yang sama dengan posisi tidur tengkurap, yaitu posisi pleksus brakhialis berada di atas tulang costae claviculae. Posisi seperti ini sangat buruk bagi otot-otot di daerah leher dan dapat menyebabkan torticollis (kontraksi otot leher) akut pada m. sternocleidomastoideus. Posisi tidur tengkurap perlu dihindari karena menyebabkan sakit di sekitar leher dan sakit kepala ketika bangun. Posisi tidur yang baik adalah dengan menggunakan punggung belakang.

Salah satu etiologi gangguan pada sendi temporomandibula adalah akibat trauma, kesalahan posisi tidur yang terus menerus membuat trauma pada sistem muskoloskeletal. Mikrotrauma yaitu adanya kekuatan kecil yang berulang kali bekerja pada struktur otot, sendi, dan gigi dalam periode waktu yang lama, selanjutnya makrotrauma adalah kekuatan mendadak sehingga menyebabkan perubahan pada struktur tersebut. Kesalahan posisi tidur yang menyebabkan mikrotrauma dapat menimbulkan nyeri miofascial.

Sindroma nyeri miofascial ini dicirikan dengan adanya spasme otot, tenderness, stifness (kekakuan), keterbatasan gerak, kelemahan otot dan sering pula timbul disfungsi autonomik pada area yang dipengaruhi yang umumnya gejala timbul cukup jauh dari trigger area. Kondisi ini sering ditemukan pada leher, bahu, punggung atas, punggung bawah dan ekstremitas bawah. Pada kondisi sindroma nyeri miofasial umumnya pasien datang dengan keluhan nyeri yang menjalar apabila dilakukan penekanan pada daerah tersebut, sehingga ditemukan adanya taut band yaitu berbentuk seperti tali yang membengkak yang ditemukan di dalam otot, sehingga membuat pemendekan serabut otot secara terus-menerus, dan terjadi peningkatan ketegangan serabut otot. Pembebanan otot yang terus-menerus atau karena penggunaan yang berlebihan, menyebabkan otot mengalami ketegangan atau kontraksi terus-menerus dan menimbulkan stress mekanis pada jaringan miofasial dalam waktu yang lama. Hal tersebut akan menstimulasi nosiseptor yang ada di dalam otot. Semakin sering dan kuat nosiseptor tersebut terstimulasi maka akan semakin kuat aktifitas refleks ketegangan otot tersebut. hal ini akan meningkatkan nyeri sehingga menimbulkan siklus viskoud. Kondisi siklus viskous akan mengakibatkan iskemik lokal  jaringan miofascial akibat dari kontraksi otot yang kuat dan terus-menerus atau mikrosirkulasi yang tidak adekuat. Akibatnya adalah jaringan mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen serta menumpuknya zat-zat sisa metabolisme. Keadaan tersebut akan merangsang ujung-ujung saraf tepi nosiseptor tipe C  melepaskan suatu neuropeptida yaitu substansi P. Pelepasan substansi P akan membebaskan prostaglandin dan diikuti juga dengan pembebasan bradikinin, potassium ion, serotonin, yang merupakan noxius atau chemical stimuli yang dapat menimbulkan nyeri.

Nyeri sindroma miofascial yang di akibatkan oleh cidera, inflamasi, strain yang hebat dapat menyebabkan fascia menjadi jaringan parut (scarred) dan mengeras. Hal ini mengakibatkan tidak hanya peningkatan ketegangan, nyeri, sensitivitas struktur yang berdekatan dengan fascia juga pada daerah yang lain. Selain itu fascia juga mendapatkan tekanan pada kasus-kasus trauma, stress biomekanis yang intermitten dan immobilisasi.Reaksi normal fascia terhadap strecor adalah meningkatkan kepadatan fascia dan seringkali daerah tersebut  menjadi trigger point. Walaupun trigger point kadang-kadang dapat diraba, keberadaanya lebih sering ditegakkan dari reaksi nyeri pasien pada waktu ditekan. Besarnya trigger point diperkirakan sekitar 3-6 mm, trigger point disebabkan darah dan bahan ekstraselular yang tidak diserap terjadi kerusakan pada jaringan lunak. Adanya perlekatan otot menyebabkan hambatan aktivitas menggunakan otot yang mengakibatkan ketegangan, kekakuan dan terbentuknya iritan lebih lanjut. 


Gejala umum yang terjadi akibat dari nyeri miofascial berupa nyeri disertai keterbatasan membuka mulut, sakit kepala dan rasa sakit yang dalam serta konstan sehingga menyebabkan efek eksitator (perangsang) sentral pada area yang jauh. Karakteristik spesifik pada nyeri miofascial adalah nyeri yang terlokalisir, adanya taut band, kelelahan pada otot yang berlebihan dan rasa kaku pada daerah muskuloskeletal (biasanya pada malam hari).

Posisi tidur yang tepat sangat penting untuk mengistirahatkan otot-otot tubuh. Posisi tidur yang tidak tepat dapat mengakibatkan kontraksi otot serta ketegangan otot yang lebih lama dari rileksasi (dimana otot tidak berkontraksi secara terus menerus) keadaan yang melebihi batas critical load, menimbulkan kelelahan otot (penumpukan asam laktat yang berlebih)  dan berujung pada kelainan fungsi otot khususnya daerah kepala, leher dan bahu. Kelainan otot tersebut juga dapat mengakibatkan kelainan pada sendi temporomandibula.

Kesimpulan
       Posisi tidur yang salah memberikan dampak trauma pada sistem muskuloskeletal,  trauma akibat posisi tidur yang salah adalah mikrotrauma yaitu trauma kecil yang terus-menerus dan mengakibatkan hiperaktivitas otot lalu menimbulkan rasa sakit serta keterbatasan fungsi pada sendi temporomandibula dan menyebabkan kelainan otot. Hiperaktivitas otot menyebabkan otot berkontraksi terus-menerus. Tidur seharusnya mengistirahatkan otot tetapi jika posisinya salah justru akan menyebabkan otot terus berkontraksi sehingga menyebabkan kelelahan otot dan terjadi penumpukan asam laktat yang  berlebih . Kelelahan tersebut  lambat laun menyebabkan spasme lokal, bila berlangsung lama menimbulkan taut band. Taut band akan  menstimulasi fibroblas di dalam fascia untuk menghasilkan lebih banyak kolagen, hal tersebut dapat mengakibatkan nyeri miofascial dan gangguan sendi temporomandibula berupa rasa sakit atau nyeri pada rahang. Hubungan antara gangguan sendi rahang dengan posisi tidur yang salah, dapat mengakibatkan kelainan fungsi pada fascia otot lalu menyebabkan gangguan pada sendi temporomandibula karena seluruh fascia di dalam tubuh saling memiliki keterkaitan hubungan, khususnya otot di daerah kepala, leher, dan bahu.


Sumber :

       Snell S Richard. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Ed. Ke-3.  Jakarta: EGC; 1997: 213-216.

         Holdcroft A, Power I. Management of Pain. BMJ; 2003: 126-139.

    Liebgott B. Dasar-Dasar Anatomi Kedokteran Gigi. Penerjemah: I. Karniasari dan L. Yuwono. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran; 1995: 203-291

     Kardos,T & Kieser Jules. Clinical Oral Biology. Ed. Ke-2. Dunedin: Unigraphics ITS; 2000: 33-37, 53-62,93-101.

      Odaci,E. Face Embriology. 2005  Available: http://www. Emedicine.com/ent/topic30.html.

   5starhealt. Temporomandibular Anatomy. Dentistry and Oral Sciences.     2006.   Available:  http://www.starhealth.com/dentistry/tmj/tmj/anatomi.html


     Anton Margo. Modul 706 Tanda dan Gejala Kelainan TMJ. Fakultas Kedokteran Gigi Trisakti 2014.

    Rasmi R, Zaalhaq M. Kurnikasari E. Pengaruh Bad Postural Habit Terhadap Kelainan Sendi Rahang. Bagian prostodonsia FKG Unpad.2006.

     AD Dixon. Anatomi untuk kedokteran gigi. Ed. ke-5. Jakarta: Hipocrates; 1993:101-115.

          John M DC, DACO. TMJ Syndrom National insitute of dental an craniofacial research. 2011.

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment