Tuesday, October 18, 2016

WELL DEFINED PROBLEMS

WELL DEFINED PROBLEMS



Well defined adalah suatu pemecahan masalah yang mempunyai tujuan dan representasi atau gambaran yang jelas dan spesifik. Aturan cara kerjanya pun telah dibangun jelas dan cara kerjanya itu telah ditemukan oleh pemencahan masalah, maka masalah itu akan dapat dipecahkan. Sedangkan ill defined adalah suatu pemecahan masalah yang mempunyai kriteria kurang jelas tentang kapan masalah itu dipecahkan. Contoh dari masalah well defined adalah soal-soal dalam pelajaran matematika atau permaianan catur, dan contoh dari masalah ill defined adalah tugas untuk menggambar, menulis buku atau melakukan percobaan. Semua masalah dalam kehidupan nyata bersifat ill defined (Qin, 1995).

Menurut Davison dan Sternberg (Sternberg, 2006) masalah dapat dikategorikan berdasarkan jelas tidaknya rangkaian solusi yang ditemukan, yaitu:

a.       Well Structured Problems
Adalah masalah yang memiliki rangkaian solusi yang jelas. Tipe masalah ini juga dikenal dengan istilah well defined problem. Menurut Davidson dan Sternberg (2006) well defined problem adalah masalah yang memiliki tujuan, langkah solusi dan rintangan solusi yang jelas berdasarkan informasi yang diberikan.

b.      Ill Structured Problems
Adalah masalah yang memiliki rangkaian solusi yang tidak jelas. Tipe masalah ini juga dikenal dengan istilah ill defined problem. Pemecahan masalah kesulitan dalam menyusun representasi mental yang sesuai terhadap masalah dan solusinya. Untuk masalah tertentu, kesulitan banyak ditemukan pada penyusunan rencana dalam rangkaian langkah yang dapat mengarah pada solusi. 

Menurut Simon (dalam Frederiksen, 1984) bahwa pada dasarnya proses pemecahan atas masalah yang well defined maupun ill defined sama, hanya saja dalam masalah yang ill defined konsepsi seseorang tentang masalah berubah secara bertahap seiring dengan ditemukannya unsur-unsur baru baik dari ingatan jangka panjang maupun dari suber-sumber diluar ingatan itu. Oleh karena itu perbedaan antara kedua jenis masalah itu tidaklah tajam. Karena masalah ill defined sering dipecahkan dengan cara menyederhanakannya ke dalam serangkaian sub masalah well defined. Di lain pihak masalah well defined kadang juga mengandung aspek-aspek ill defined.


Sehubung dengan itu Frederiksen (1984) berpendapat bahwa pembedaan masalah ke dalam masalah well defined dan ill defined itu terlalu sederhana. Oleh karena itu mengajukan tiga katergori masalah yang menurutnya mungkin lebih mencerminkan variasi persoalan secara lebih baik, yaitu:

a.       Masalah yang distrukturkan dengan baik (well structured problem)
b.      Masalah yang distrikturkan dan memerlukan produktif (structured problems requiring productive thinking)
c.       Masalah yang tidak distrukturkan dengan baik (ill structured problem)


Menurut Frederiksen (1984) masalah well structred mencakup semua masalah yang dirumuskan dengan jelas, dimana alogaritmanya diketahui dan tersedia kriteria untuk menguji ketepatan jawabannya. Masalah yang distrukturkan dan memerlukan berpikir positif produktif adalah masalah yang mirip dengan masalah well structured hanya saja produser pemecahannya atau beberapa langkah penting dalam prosedur pemecahnnya harus dikembangkan sendiri oleh si pemecah masalah. Sedangkan masalah ill structured, mencakup masalah yang kurang terumuskan dengan jelas, kurang memiliki prosedur yang menjamin solusi yang benar, serta kurang memiliki kriteria untuk menilai solusinya. Kebanyakan masalah sosial dan politik serta banyak masalah keilmuan termasuk kategori ini (Frederiksen,1984).

Terdapat banyak riset dan publikasi tentang pemecahan masalah, namun hanya sedikit laporan riset dan publikasi yang mengulas tentang pengertian dari pemecahan masalah itu sendiri, karena diasumsikan bahwa semua pihak sudah sepaham perihal pengrtian dari istilah pemecahan masalah atau problem solving. Sebagai mana yang dikatakan oleh Jonassen dan Serrano (2002), bahwa problem solving adalah salah satu jenis belajar yang komples, berdimensi jamak dan sangat kurang dipahami. Termologi problem solving digunakan secara ekstensif dalam psikologi kognitif untuk mendeskripsikan semua bentuk dari kesadaran atau kognisi.


Sunday, October 16, 2016

PAUL FEYERABEND: Metode Anarki Ilmu Pengetahuan

PAUL FEYERABEND: Metode Anarki Ilmu Pengetahuan





                                                    

Pemikiran Kuhn tentang revoludi ilmu pengetahuan dan pemikiran Lakatos mengenai program riset ilmu pengetahuan kerap kali digunakan sebagai kerangka teoritis untuk menjelaskan dinamika ilmu pengetahuan. Dalam konteks perkembangan teoritis ini filsafat ilmu pengetahuan membedakan antara context of discovery dan context of justification. Yang pertama berbicara tentang proses logis temuan ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan tidak selamanya ditentukan oleh perkembangan teori. Segi lain dari perkembangan ilmu dapat dilihat dari penggunaan ilmu itu sendiri dalam masyarakat. Dalam hal ini pengembangan ilmu ditentukan oleh bagaimana ia diterima dalam masyarakat dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Dalam hal ini perkembangan ilmu ditentukan oleh bagaimana ia diterima dalam masyarakat dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.

Tak dapat disangkal bahwa dimensi praktis dari ilmu pengetahuan juga menjadi fokus perhatian Thomas Kuhn. Bahkan pemikirannya tentang perkembangan ilmu pengetahuan dari tahap pra-paradigma ke tahap paradigma dan dari tahap paradigma ke tahap krisis paradigma dipakai sebagai model untuk menjelaskan kemungkinan perencanaan pengembangan ilmu pengetahuan untuk kepentingan masyarakat dan karena itu untuk memahami perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam cara pandang Kuhn ini kita boleh mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang menurut tiga fase berikut:

Thomas Kuhn

Fase pertama adalah fase percobaan dan penemuan yang dirintis oleh para ilmuwan amatir. Ini merupakan fase pertama perkembangan ilmu pengetahuan, karena ilmu selalu ditandai oleh penemuan-penemuan yang belum dapat dibuktikan kebenarannya. Fase ini disebut sebagai fase amatir, karena fase ini teori yang baru ditemukan belum menjadi konsumsi masyarakat ilmiah dan masyarakat pada umumnya.  Dengan kata lain, sifat amatir temuan ilmiah itu menunjukan bahwa temuan-temuan tersebut belum diterima komunitas ilmiah. Tahap ini dilihat sebagai tahap pra-paradigma.

Fase kedua adalah fase munculnya suatu paradigma, suatu fase yang biasa ditandai oleh perkembangan teori-teori dasar sampai mencapai tingkat kematangannya. Sebuah teori dapat dikatakan matang jika teori tersebut pada tingkat tertentu sudah umum diterima masyarakat ilmiah, atau menjadi konvensional dalam masyarakat ilmiah. Masyarakat ilmiah melalui otoritas ilmiah memainkan peran signifikan pada fase ini.

Dan fase ketiga adalah fase pendanaan penelitian ilmiah terapan. Dalam fase ini penelitian ilmiah akan memfokuskan perhatiannya pada masalah pemanfaatan teori ilmiah bagi kepentingan masyarakat. Pada tahap ini seorang ilmuwan tidak lagi berminat membangun teori-teori dasar keilmuwan, tetapi membangun teori yang memiliki sifat pragmatis yang besar. Asumsi dibalik fase ini adalah bahwa setiap teori ilmiah tidak hanya mengawang-ngawang, dengan hanya menangkap dan menjelaskan realitas tetapi memiliki  manfaat yang besar bagi kehidupan bersama. Pada fase ketiga ini perkembangan ilmu diukur dengan kriteria kegunaannya dalam masyarakat.

Fase pertama dan kedua bertujuan teoritis. Pada fase ini perkembangan ilmu pengetahuan dipahami sebagai kegiatan menemukan dan merumuskan platt-form teoritis: suatu usaha mencari sebuah pendasaran atau penjelasan teoritis tentang alam yangkuta lihat dan alami. Sementara itu pada fase ketiga, orientasi teoritis berubah menjadi terapan. Teori-teori disini tidak lagi dikembangkan hanya untuk memenuhi hasrat keingintahuan manusia, melainkan untuk tujuan-tujuan praktis tertentu. Disini, ilmu pengetahuan tidak lagi bersifat netral, melainkan berhubungan dengan sebuah kepentingan dan nilai tertentu, sebuah tujuan yang hendak dicapai.

Fase-fase perkembangan tersebut tentu tidak melepaskan diri dari kerangka paradigmastis masyarakat, karena itu memiliki referensi yang kuat pada pemikiran masyarakat ilmiah tentang perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Para ahli sosiologi ilmu pengetahuan seperti Robert K. Merthon menegaskan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu. Ia menentukan perkembangan ilmu mulai dari penerimaan kegiatan amatir sampai pada penerapan sebuat teori untuk kepentingan-kepentingan yang lebih praktis.

Seluruh Kerangka penjelasan Kuhn sebegaimana dijelaskan di atas berguna untuk melihat jembatan antara kepentingan teoritis dan kepentingan praktis dari ilmu pengetahuan. Tetapi pandangan Kuhn tersebut dinilai masih bersifat statis. Dengan menempatkan persetujuan konvensional di antara para ilmuwan sebagai inti paradigma, Kuhn sebenarnya memandang dengan sebelah mata kreativitas individual, yang dalam kenyataannya menjadi pionir ilmu pengetahuan. Maka persoalan yang belum dijawab Kuhn adalah bagaimana kita bisa mengerti tentang dinamika ilmu pengetahuan dalam kerangka sebuah paradigma. Atau lebih tegas, dimana letak kemungkinan perkembangan ilmu pengetahuan? Apa artinya kedewasaan ilmu pengetahuan, jika komunitas ilmuwan menjadi ukurannya? Apakah dengan itu tidak diperlukan lagi terobosab baru dalam ilmu pengetahuan, justru ketika sebuah teori diterima sebagai paradigma? Bagaimana kita menjelaskan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan manakah syarat-syarat bagi perkembangannya, termasuk dalam hal ini penelitian teoritis dan penelitian terapan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak membawa kita kepada persoalan logic of scientific discovery, logika penemuan ilmiah dan logic of scientific justification, logika pembuktian ilmiah, melainkan bagaimana ilmuwan sebagai individu dapat mengambil sikap terhadap ilmu pengetahuan sebagai konvensi masyarakat. Dengan kata lain, apa yang harus dibangun oleh seorang ilmuwan dalam menegakan kebebasan ilmiahnya. Bagaimana ia dapat mempertanyakan konvensionalitas pandangan ilmiah yang sudah ada dalam masyarakat dan tidak terjerat pada kerangka metodologi yang baku yang biasa dipakai sebagai kerangka tetap dalam penelitian ilmiah.

Feyerabend: Seorang Falsifikasionis yang Realis
Apa yang ingin dikembangkan Feyerabend tidak lepas dari apa yang sebenarnya dikembangkan Karl Popper, gurunya di London School of Economics. Feyerabend sendiri mengaku bahwa Popper telah merintis jalan yang tepat ketika ia mengkritik induktivisme dalam ilmu pengetahuan dan melihat falsifikasi sebagai pilihan yang riil. Ia bahkan ingin mengatasi kritisisme Popper dan menyebut dirinya sebagai seorang falsifikasionis realis. Feyerabend menilai dirinya di satu sisi sebagai seorang filsuf yang menghargai sikap kritis terhadap setiap teori, namun di sisi lain ia juga percaya bahwa setiap teori yang baik harus berbicara tentang realitas yang independen (a mind-independent reality). Dalam sebuah teori yang baik harus memiliki korespondensi dengan realitas. Dengan posisi dasar ini Feyerabend menegaskan bahwa hanya realisme yang membawa kita ke cita-cita intelektual. Cita-cita intelektual yang di maksud adalah sikap kritis dan kejujuran ilmiah.

Feyerabend juga berpandang bahwa pengalaman dan pernyataan-pernyataan tentang realitas lebih kompleks dari yang dipikirkan positivisme. Jika positivisme cenderung melihat obsevasi dan eksperimen sebagai tujuan, maka realisme menegaskan bahwa observasi dan eksperimen selalu membutuhkan interpretasi dan interpretasi yang berbeda-beda senantiasa disumbangkan oleh teori yang berbeda-beda pula. Maka bisa dikatakan bahwa awal pemikiran filsafat Feyerabend adalah realisme. Ilmu pengetahuan dalam pandangan ini merupakan usaha yang tidak pernah habis untuk menjembatani subjek pengenalan yang memiliki kerangka berpikir dengan realitas yang berdiri sendiri. Dunia dan benda-benda di luar subjek pengenal, sang ilmuwan, merupakan tujuan dari ilmu pengetahuan.

 Against Method
Tahun 1975 Paul Feyerabend menerbitkan bukunya yang berjudul Againt Method, sebuah buku yang diberi penafsiran oleh para pembaca sebagai sebuah pemberontakan terhadap teori-teori ilmu pengetahuan sebelumnya dan terhadap metode-metode ilmu yang sudah menjadi konvensional di dalam masyarakat. Selain itu, buku tersebut dapat dilihat sebagai sebuah pemberontakan terhadap apa yang ia yakini sebelumnya yaitu realisme ilmiah.



Tujuan dari buku Against Method adalah mendorong para ilmuwan untuk mempersoalkan kembali semua metode ilmiah yang mereka gunakan secara dogmatis, tanpa sikap kritis sama sekali. Setiap ilmuwan harus menjadi ilmuwan yang sejati, dalam arti harus mengembangkan sebuah metode yang memberi tempat bagi kebebasan berpikir, tidak mengekang diri dalam batas-batas metode yang konvensional, melainkan harus membiasakan diri untuk mempersoalkan semuanya itu. prinsip dasar metode yang ingin ia bangun adalah anything goes, lakukan menurut kata hatimu. Dengan prinsip ini Feyerabend tentu tidak bermaksud bahwa kita harus selalu kembali kepada situasi dimana tidak ada pengaruh ilmu pengetahuan lain: suatu situasi kacau dimana tidak ada lagi metode dan teori-teori ilmiah. Sebaliknya, prinsip ini merupakan senjata untuk memerangi metode dan aturan ilmu pengetahuan yang kaku. Tujuannya adalah agar kita tidak melakukan dan mempertahankan kesalahan. Feyerabend menegaskan bahwa ilmuwan bisa saja melakukan kesalahan apa saja sebagaimana hal nya setiap manusia dapat melakukannya. Ilmu pengetahuan bukanlah sistem yang murni tanpa kekeliruan. Bahkan tidak perlu dibangun sedemikian rupa seolah-olah kekeliruan tersebut tidak mungkin terjadi.

Feyerabend menyadari bahwa ia tidak berbicara tentang ilmu pengetahuan sebagai sistem tertutup, melainkan sebagai sistem yang berkembang dan tumbuh dalam masyarakat demokratis. Dengan kata lain, orang dapat membangun ilmu pengetahuan sebagai sebuah sistem dengan aturan-aturan metodologis yang ketat sebagaimana dicita-citakan kaum positivis. Dalam pandangannya tersebut kita bisa mengatakan bahwa pengalaman, data dan hasil-hasil eksperimen merupakan ukuran keberhasilan sebuah teori, bahwa kecocokan antara data dan teori membuat teori dipertahankan dan bahwa ketidakcocokan antara data dan teori dapat menghancurkan teori itu sendiri. Tetapi apakah aturan metodologis yang ketat menentukan ilmu pengetahuan? Jawaban Feyerabend adalah “Tidak”. Ia tidak yakin bahwa aturan metodologis yang ketat dapat membuat ilmu pengetahuan menjadi kreatif.

Feyerabend memberikan dua alasan untuk jawabannya yang negatif itu. Pertama, dunia yang kita ketahui selalu mengandung misteri, sehingga selalu tidak dapat dikenal dengan baik. Artinya, ilmu pengetahuan harus terus-menerus melakukan penelitian, tanpa harus membatasi diri hanya pada metode-metode yang terbatas serta tidak membuka diri pada penjelasan-penjelasan lain.

Kedua, dunia hanya dapat diketahui melalui kreativitas individual. Alasan kedua berkaitan dengan perspektif positivis tentang metode ilmu pengetahuan. Menurut Feyerabend, positivisme telah menawarkan sebuah proposal metodologis yang menyesatkan. Menurut Feyerabend, positivisme telah menawarkan sebuah proposal metodologis yang menyesatkan. Ia menafsirkan positivisme sebagai metode ilmu pengetahuan harus membebaskan diri dari unsur-unsur subjektivitas manusia. Ini konsep objektifitas yaitu objektivitas ditafsirkan sebagai bebas dari aspirasi dan penafsiran personal; dan metode ilmiah harus sejauh dapat membebaskan ilmu pengetahuan dari kreativitas personal seorang ilmuwan. Namun dengan sinis Feyerabend menegaskan bahwa metode ilmu pengetahuan tidak lebih dari prosedur yang harus diikuti oleh seorang ilmuwan; metode tersebut telah memenjarakan ilmuwan dan tidak mengizinkannya untuk bertindak di luar batas-batas metode konvensional yang ada.

Feyerabend menjelaskan bahwa metode anarki (anarchistic methodology) itu tidak bertujuan menimbulkan khaos ilmiah, melainkan membuka kemungkinan yang lebih luas bagi setiap individu untuk menunjukan kreativitasnya karena ia percaya bahwa manusia dalam kreativitasnya akan selalu mengusahakan perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan dirinya sendiri. Ia memiliki dua alasan untuk menawarkan metode anarki ini. Pertama, tidak ada metodologi ilmiah yang tidak rentan terhadap kritik. Banyak temuan ilmiah terjadi karena beberapa pemikir memilih untuk tidak terikat dengan aturan metodologi yang sedang berlaku. Kerentanan metodologis tersebut merupakan sesuatu yang mutlak perlu bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Kedua, menurut pengamatannya, ilmuwan cenderung tidak membangun sebuah hipotesis yang harus dibuktikan secara induktif, melainkan mengusulkan sebuah hipotesis yang kontra-induktif. Disebut kontra-induktif karena hipotesis tersebut dapat menjadi alternatif dan bahkan menggoncang teori-teori lama. Feyerabend menegaskan bahwa ilmuwan yang baik selalu terbuka bagi metodologi lain dalam ilmu pengetahuan (pluralistic methodology). Selain itu, disebut kontra-induktif karena hipotesis bertujuan mempertanyakan data-data yang sudah lama diterima masyarakat ilmiah. Menurut Feyerabend, setiap hipotesis dapat bertentangan dengan data: bukan karena data-data itu tidak tepat tetapi bahwa data itu sendiri terkontaminasi oleh hipotesis lain.

Alasan kedua, Feyerabend menjelaskan bahwa pengamatan atas data selalu terjadi dalam rangka sebuah teori tertentu. Dengan kedua alasan ini maka bisa dikatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan mensyaratkan prinsip otonomi ilmuwan, suatu prinsip yang menegaskan bahwa ilmu hanya berkembang jika setiap ilmuwan memiliki kebebasan yang sepenuh-penuhnya untuk meneliti menurut kata hatinya sendiri.




Kebebasan Ilmuwan
Pemikiran Feyerabend mengenai metode anarki ilmu pengetahuan memiliki implikasi yang luas bagi pemikiran kita tentang kebebasan ilmu pengetahuan itu sendiri dan tentang kebebasan masyarakat modern saat ini. Ia sendiri menegaskan bahwa dengan gagasan ini ia ingin menempatkan ilmu pengetahuan dalam kerangka gerakan kemanusiaan yang sama dengan apa yang diperjuangkan John Stuart Mill, pada abad ke-19 dalam bidang politik.

Analogi pemikiran Feyerabend dan Mill ini memiliki dua implikasi penting. Implikasi pertama berkaitan dengan gagasan unified science sebagaimana dicita-citakan oleh kaum positivis. Menurut pandangan positivisme setiap ilmu diharapkan membangun sebuah metodologi yang sama untuk mencapai objektivitas. Dalam pandangan Feyerabend ilmu pengetahuan tidak pernah menjalan fungsi pembebaskan ketika dilembagakan dalam masyarakat. Bagi Feyerabend, suatu masyarakat yang bebas hanya terjadi jika setiap warganya dapat mengungkapkan pikirannya sendiri dan mengambil keputusan yang paling baik bagi dirinya. Hal ini dapat terwujud jika setiap orang yang belajar ilmu pengetahuan memiliki kesempatan yang sama belajar dongeng atau mitos-mitos yang beredar dalam masyarakat.

Dalam pandangan Feyerabend, masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang netral terhadap ideologi (agama dan ilmu pengetahuan bisa bersifat ideologis). Masyarakat tersebut harus bisa menjamin agar setiap orang memiliki kebebasan dan agar setiap orang memiliki kebebasan dan agar setiap orang tidak ditekan oleh semua bentuk ideologis termasuk dalam hal ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, metodologi anarki memiliki implikasi sosial politik. Feyerabend ingin agar ilmu sendiri harus bebas dari negara dan masyarakat mayoritas.


Dari Anarki ke Syarat-Syarat Metodologis Ilmu

Kritik Terhadap Feyerabend
Pemikiran Feyerabend memiliki kontradiksi pada dirinya sendiri. Atas nama kebebasan kita barangkali dapat menghargai kritiknya atas metode ilmu pengetahuan yang berkembang sampai sekarang. Tetapi kebebasan yang ia maksud hanyalah kebebasan negatif yaitu kebebasan berarti setiap individu harus membebaskan diri dari kungkungan apapun agar ia bisa melakukan apa yang ia inginkan. Kebebasan jenis ini disebut kebebasan negatif: kebebasan dari.

Kebebasan macam ini harus diimbangi dengan kebebasan positif: kebebasan untuk, artinya seseorang bebas untuk melakukan sesuatu. Kebebasan ilmu pengetahuan selalu berkembang dalam situasi objektif, dimana kebebasan orang lain tidak terhindarkan lagi. Kebebasan ilmu pengetahuan selalu berkembang dalam situasi objektif, dimana kebebasan orang lian tidak terhindarkan lagi. Kebebasan orang lain tersebut merupakan batas objektif bagi kebebasannya.

Selain itu, Pemikiran Feyerabend mengandung sebuah ironi. Disisi lain, dalam teori ilmu pengetahuannya, menolak gagasan penelitian yang netral terhadap teori, tetapi di sisi lain, dalam teori politiknya ia justru menyetujui gagasan negara yang netral terhadap ideologis.

Syarat-Syarat Pengembangan Ilmu
Kritik yang menjurus kepada penolakan terhadap metodologi ilmu pengetahuan mendorong pada filsuf untuk berpikir lebih konstruktif tentang metode ilmu pengetahuan. Tampaknya kita tidak bisa membayangkan suatu ilmu tanpa metode, beberapa filsuf seperti Stephen Toulmin, Kurt Huebner, Stephen Koerner dan Yehuda Elkana mencoba melihat kembali prasyarat-prasyarat penting yang harus diindahkan oleh ilmuwan. Dalam banyak hal keempat filsuf tersebut secara konstruktif memberikan pendasarkan agar metodologi ilmu pengetahuan tidak harus dipahami secara kaku, tetapi memberikan ruang bagi kebebasan ilmu pengetahuan dalam mengembangkan model-model ilmu. Karena itu pula apa yang mereka identifikasi sebagai prasyaratan-prasyaratan metodologi ilmiah pun tidak harus ditafsir secara kaku. Demikian pandangan mereka, prasyaratan-prasyaratan tersebut mengalami perkembangan. Persyaratan-persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:
1.        Prasyarat ontologis (Koerner). Artinya bahwa ilmu-ilmu berkembang karena mereka berhadapan dengan bidang-bidang realitas yang beda-beda. Perbedaan antara fisika, astronomi, sejarah dan sastra semata-mata disebabkan karena berhadapan dengan realitas yang berbeda. Suatu usaha untuk membangun Mathesis universalis seperti yang dibayangkan Descartes atau suatu unified sciences sebagaimana dipikirkan oleh sekolah Wina merupakan usaha yang tidak masuk akal.

2.        Prasyarat sumber pengetahuan (Elkana). Dalam epistemologis umum diketahui bahwa sumber pengetahuan kita adalah pengalaman dan akal budi. Sejarah ilmu pengetahuan menunjukan perbedaan tekanan pada apa yang dimaksud dengan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Pertama-tama yang dimaksud dengan pengalaman adalah pengamatan. galileo menemukan teleskop, konsep pengamatan itu sendiri mengalami perkembangan yang menakjubkan. Dimensi instrumen pengamatan menjadi sangat penting dalam ilmu. Pertama-tama dimensi ini menjadi nyata dalam matematika dan logika. Pertanyaan penting berkaitan dengan pemakaian rasio adalah masalah bukti. Pada abad pertengahan gagasan rasio mempengaruhi konsep intuisi, wahyu, otoritas dan tradisi. Semuanya dianggap sebagai sumber-sumber pengetahuan dalam banyak bidang entah agama maupun ilmu pengetahuan.

3.        Prasyarat hierarki sumber-sumber pengetahuan (Yehuda Elkana). Sumber-sumber pengetahuan memiliki hierarki yang berbeda-beda dalam tiap-tiap ilmu. Bagi ilmuwan Eropa kontinental, penggunaan rasio mendapat tempat pertama, sedangkan bagi ilmuwan dalam tradisi Anglosakson, pengalaman mendapat prioritas. Ketiga sumber pengetahuan tersebut mendapat urutan prioritas masing-masing. Karena itu tidak dapat dikatakan bahwa perkembangan ilmu berjalan secara sama begitu saja dimana-mana.

4.        Prasyarat pembuktian (Kurt Huebner). Yang dimaksud dengan prasyarat ini adalah apa yang dapat kita tetapkan sebagai bukti, pendasarkan, penerimaan suatu teori, kritik, dan penolakan terhadap suatu teori.

5.        Prasayarat normatif (Heubner). Prasyarat terakhir ini menunjukan bahwa semua ilmu memiliki bentuk-bentuk normatif seperti teori, kemudahan, ketelitian dalam hubungan antara persoalan dan solusi, dan asumsi-asumsi hubungan antara persoalan dan solusi, dan asumsi-asumsi dasar yang kebal terhadap kritik.

Prasyarat-prasyarat ini menunjukan bahwa metodologi ilmu tidak berkembang secara linear tetapi mengalami perubahan berdasarkan tuntutan-tuntutan baru. Selain itu, pengetahuan ilmiah tidak tunduk pada kesepakatan bersama (konvensi), melainkan pada pembuktian. Prasyarat-prasyarat tersebut menuntut agar setiap usaha pembuktian ilmiah tunduk pada kewajiban untuk mencapai kebenaran. Kebenaran merupakan orientasi dasar dari semua prasyarat-prasyarat metodologis yang dibangun ilmu secara bersama. Jika kritik Feyerabend berusaha memporak-porandakan semua aturan metodologis demi kebebasan ilmiah, maka semua prasyarat metodologis sebagaimana berkembang dalam sejarah, dalam pemikiran filsuf-filsuf kontemporer, tidak pertama-tama membangun konvensi ilmu, melainkan bertujuan agar ilmu pengetahuan terarah pada pengetahuan yang benar. Kebenaran adalah ide regulatif yang mengarahkan semua perangkat metodologis.



Friday, October 14, 2016

Fenomena Tip of the tongue dan komponennya

Fenomena Tip of the tongue dan komponennya





Tip of the tongue  adalah perasaan yang menyertai dapat diaksesnya item sementara dimana orang - orang mencoba untuk mengingat kembali item-item tersebut (Brown & McNeill, 1966). Sedangkan bagi Nelson (2000), istilah tip of the tongue (TOT) berarti suatu kognitif dimana seseorang dapat melaporkan fonologi sebagian atau informasi sematik tentang item yang dituju, tapi tidak bisa mengingat kembali seluruh kata yang sudah diingat.

Wednesday, October 12, 2016

FEATURE DETECTION


Teori Feature detection adalah sel-sel yang kita miliki yang berada di dalam korteks penglihatan kita yang bergejolak hanya pada respon-respon stimulus tertentu. Feature detection ini bergejolak ketika mereka menerima input ketika kita melihat suatu bentuk tertentu, warna, sudut, atau bentuk visual lainnya (Pastorino & Portillo, 2010)Feature detection dirancang untuk

Tuesday, October 11, 2016

PERILAKU MENYIMPANG SEKSUAL NECROPHILIA

PERILAKU MENYIMPANG SEKSUAL NECROPHILIA



Berbicara soal manusia maka tidak lepas dari perilakunya. Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial. Salah satu contoh dari perilaku menyimpang atau abnormal adalah perilaku menyimpang seksual. Fenomena perilaku penyimpangan seksual ini menjadi suatu perihal yang sangat mengkhawatirkan khususnya bagi keluarga dan lingkungan masyarakat dan salah satunya adalah necrophilia.

Sunday, October 9, 2016

MANUSIA DAN AGAMA

MANUSIA DAN AGAMA




Kajian tentang manusia merupakan kajian yang sangat menarik, karena di samping dapat didekati dari berbagai aspek, hal ini juga menyangkut kita sendiri sebagai  manusia.  Kajian  tentang  manusia  ini  sudah  cukup  lama  dilakukan  sejak zaman  para  filosof  kuno  di  Yunani.  Mereka  sudah  mulai  berbicara  tentang manusia, di samping juga berbicara tentang Tuhan dan alam semesta. Pengkajian tentang manusia ini juga pada akhirnya melahirkan berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi, antropologi, biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu yang lain.

MANUSIA DAN LINGKUNGAN

MANUSIA DAN LINGKUNGAN




Manusia dapat mempengaruhi lingkungan karena manusia makhluk dominan dimuka bumi ini sehingga seluruh kegiatan manusia akan mengakibatkan perubahan lingkungan disekitarnya.

MANUSIA DAN SEJARAH

MANUSIA DAN SEJARAH




Sejarah adalah kejadian yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan-peninggalan berbagai peristiwa. Peninggalan peninggalan itu disebut sumber sejarah.

Saturday, October 8, 2016

SEJARAH SINGKAT DAN PENYEBAB RUNTUHNYA KEKAISARAN ROMA

SEJARAH SINGKAT DAN PENYEBAB RUNTUHNYA KEKAISARAN ROMA




Sejarah Singkat Roma
Dimulai pada abad ke - 8 (delapan) SM, Roma kuno tumbuh dari sebuah kota kecil di tengah Italia daerah Tiber River menjadi sebuah kerajaan yang pada puncaknya meliputi sebagian besar benua Eropa, Inggris, sebagian besar Asia Barat, Afrika Utara dan pulau-pulau Mediterania. Di antara banyak warisan dominasi Romawi adalah meluasnya penggunaan bahasa Romantis (Italia, Perancis, Spanyol, Portugis dan Rumania) berasal dari bahasa Latin, alfabet Barat modern, kalender dan munculnya agama Kristen sebagai agama utama dunia. Setelah 450 tahun sebagai republik, Roma menjadi sebuah kerajaan yang di bangun dari jatuh bangunnya Julius Caesar di abad pertama SM. Pemerintahan terlama dan penuh kemenangan oleh kaisar pertama, Augustus, memulai zaman keemasan, perdamaian dan kemakmuran

Friday, October 7, 2016

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN: TIPOLOGI

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN: TIPOLOGI




Tipologi Berdasarkan Konstitusi

Tipologi Kepribadian yang tahan uji dan lama sekali mempengaruhi para ahli dalam bidang tipologi adalah tipologi yang dimulai oleh Hippocrates yang kemudian disempurnakan oleh Galenus.

Wednesday, October 5, 2016

PSIKOLOGI ABNORMAL : PARAFILIA

PSIKOLOGI ABNORMAL : PARAFILIA



Dalam DSM-IV-TR, parafilia adalah kelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak wajar atau aktifitas seksual yang tidak pada umunya. Dengan kata lain, terdapat deviasi dalam ketertarikan seseorang. Fantasi, dorongan, atau perilaku harus berlangsung setidaknya selama 6 bulan dan menyebabkan distress. Seseorang dapat memiliki perilaku, fantasi, dan dorongan seperti yang dimiliki seorang paraphilia seperti, memamerkan alat kelamin kepada orang asing yang tidak memiliki kecurigaan apa pun atau berkhayal melakukan hal itu, namun tidak didiagnosis menderita paraphilia jika fantasia tau perilaku tersebut tidak berulang atau bila ia tidak mengalami distress karenanya. Contohnya, 50 persen laki-laki menuturkan bahwa mereka memiliki fantasi voyeurikstik untuk mengintip perempuan yang sedang tanpa busana (Hanson & Harris, 1997).

Monday, October 3, 2016

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

PSIKOLOGI PENDIDIKAN






Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan, efektivitas intervensipendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari sekolah sebagai organisasi. Psikologi pendidikan berkaitan dengan bagaimana siswa belajar dan berkembang, dan sering terfokus pada sub kelompok seperti berbakat anak-anak dan mereka yang tunduk pada khusus penyandang cacat